Makalah Inflasi, Pengangguran, dan Kebijakan Pemerintah
PENGARUH KENAIKAN BBM
TERHADAP TERJADINYA INFLASI,
PENGANGURAN DAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
Makalah
ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat
mengikuti
matakuliah Makro Ekonomi Pengantar
Disusun
oleh:
Pulung
Wijanarko ` 514
0111 015
Patra
Irmansyah 514 0111 027
Eka
Juliyanto 514 0111 033
Saiful
Insan 514 0111 046
Puput
Hayu Putranti 514
0111 049
Pipit
Bagus Putranto 514
0111 050
Rahmi
Rosjanah 514
0111 054
PROGRAM STUDI S-1 AKUNTANSI
FAKULTAS BISNIS DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS TEKNOLOGI YOGYAKARTA
Tahun
Akademik 2014/2015
Alhamdulilah puji sukur milik Allah SWT. Hanya
karena izin-Nya makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Salawat
serta salam dipanjatkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw. Beserta
keluarganya, para sahabatnya, dan seluruh insan yang di kehendaki-Nya.
Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi
tugas mata kuliah makro ekonomi pengantar yang diberi judul Pengaruh kenaikan bbm terhadap terjadinya
infalsi, pengangguran dan kebijakan pemerintah. Dalam
makalah ini akan diuraikan mengenai pengaruh kenaikan bbm terhadap inflasi, pengangguran
dan kebijakan pemerintah.
Makalah ini dapat selesaian karena mendapatkan
bantuan serta bimbingan dari beberapa pihak, oleh karena itu sudah sepantasnya
mengucapkan terima kasih kepada.
1. Orang tua yang banyak memeberikan semangat dan
bantuan,
baik moral maupun spiritual
2. Prof. Bambang Hartadi, Ph.D., M.M., CPA.,
CA sebagai rektor Universitas Teknologi Yogyakarta
3. Lila Retnami Utami, SE, Msi.
selaku dosen matakuliah ekonomi makro pengantar.
4. Semua pihak yang membantu dalam proses
penyusunan makalah ini.
Yogyakarta, 20 April 2015
Penulis
|
Makalah ini
masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu sangat diharapkan adanya
saran dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan makalah mendatang.
Harapan semoga makalah ini bermanfaat dan memenuhi harapan berbagai pihak.
BAB I
Pengangguran dan Inflasi adalah dua masalah ekonomi utama yang dihadapi
setiap masyarakat. Kedua masalah ekonomi itu dapat menyebabkan beberapa
dampak buruk yang bersifat ekonomi, politik dan sosial. Untuk menghindari
berbagai dampak buruk yang mungkin timbul, berbagai kebijakan ekonomi perlu
dijalankan. Analisis dalam makalah ini bertujuan untuk menerangkan tentang
bentuk-bentuk masalah pengangguran dan inflasi yang dihadapi pada suatu
perekonomian dan bentuk Kebijakan
Pemerintah yang dapat dijalankan untuk mengatasi masalah tersebut. Dalam
makalah ini akan diuraikan dua hal masalah, yakni pengangguran dan Inflasi yang dihadapi suatu ekonomi dan bentuk
Kebijakan Pemerintah yang dapat dijalankan untuk mengatasi masalah tersebut.
Terdapat tiga bentuk kebijakan pemerintah yang dapat dijalankan yaitu kebijakan
fiskal, kebijakan moneter dan kebijakan segi penawaran.
Ada tiga faktor mendasar yang menjadi penyebab masih tingginya
tingkat pengangguran di Indonesia. Ketiga factor tersebut adalah 1) ketidaksesuaian antara hasil yang dicapai
antara pendidikan dengan lapangan kerja
2) ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja dan
kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan masih rendah 3) Lapangan pekerjaan yang membutuhkan tenaga
kerja umumnya tidak sesuai dengan tingkat pendidikan atau keterampilan yang
dimiliki. Umumnya perusahaan atau penyedia lapangan kerja membutuhkan tenaga
yang siap pakai, artinya sesuai dengan pendidikan dan ketrampilannya, namun
dalam kenyataan tidak banyak tenaga kerja yang siap pakai tersebut. Pada
kenyataannya yang banyak adalah tenaga kerja yang tidak sesuai dengan pekerjaan
yang disediakan
Dari paparan di atas
maka terdapat masalah yang akan di bahas
1.
Apakah yang menyebabkan adanya pengangguran?
2.
Apakah yang menyebabkan adanya inflasi?
3.
Bagaimanakah pengaruh inflasi terhadap pengangguran?
4.
kebijakan apakah yang harus diterapkan pemerintah untuk
mengurangi pengangguran dan inflasi?
1.
Untuk mengetahui penyabab inflasi dan pengangguran
2.
Untuk mengetahui pengaruh inflasi terhadap pengangguran
3.
Untuk mengetahui kebijakan pemerintah yang tepat untuk
menyelesaikan masalah pengangguran dan inflasi.
Untuk memberi
informasi kepada masyarakat luas tentang akuntansi dan menambah ilmu bagi para
pelajar yang sedang menuntut ilmu di bidang ekonomi khususnya akuntansi,dan
bagi perusahaan.
BAB II
2.1.Masalah
Pengangguran
Masalah Pengangguran
adalah keadaan dimana seseorang yang tergolong dalam angkatan kerja, ingin
mendapatkan pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya.
Pengangguran Normal atau Friksional adalah seseorang yang berhenti bekerja karena kurang menyukai
pekerjaannya atau tidak sepaham dengan atasannya.
Contoh: seseorang sudah memiliki pekerjaan di suatu perusahaan
misalnya, namun berhenti bekerja karena tidak menyukai pekerjaannya
b. Pengangguran Siklikal
Pengangguran Siklikal adalah seseorang yang diberhentikan karena perusahaan mengurangi pekerja akibat penurunan
permintaan.
Contoh: orang-orang yang
di PHK.
c. Pengangguran Struktural
Pengangguran Struktural adalah
seseorang yang berhenti bekerja karena perusahaannya ditutup, meskipun memiliki
kemampuan atau kecakapan.
Contoh, seseorang yang bekerja pada suatu perusahaan namun
berhenti bekerja karena perusahaannya ditutup.
d. Pengangguran Teknologi
Pengangguran Teknologi adalah seseorang yang berhenti
bekerja karena adanya pergantian tenaga kerja mesin dengan manusia. Contohnya
Mesin Cuci Menggantikan orang yang mencuci pakaian.
a.
Pengangguran
Terbuka
Pengangguran Terbuka adalah Pengangguran yang
tercipta sebagai akibat pertambahan Lowongan Pekerjaan yang lebih rendah dari
pertambahan tenaga kerja.
Contoh: banyaknya Sarjana namun sedikit lapangan pekerjaan.
Proporsi atau jumlah pengangguran terbuka dari angkatan kerja
berguna sebagai acuan pemerintah bagi pembukaan lapangan kerja baru. Disamping
itu, trend indikator ini akan menunjukkan keberhasilan progam ketenagakerjaan
dari tahun ke tahun.
Indikator ini dapat dihitung dengan cara membandingkan antara
jumlah penduduk berusia 15 tahun atau lebih yang sedang mencari pekerjaan,
dengan jumlah penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja.
∑ orang yang mencari pekerjaan
|
x 100%
|
|
∑ angkatan kerja
|
Misalkan, dari data Sensus Penduduk tahun 2006 diketahui jumlah
orang yang mencari pekerjaan sebanyak 6.130.754 orang dan jumlah angkatan kerja
sebanyak 110.546.330 orang . Sehingga tingkat pengangguran terbuka di Indonesia
pada tahun 2006 adalah:
Tingat Pengangguran
Besarnya angka
pengangguran terbuka mempunyai implikasi sosial yang luas karena mereka yang
tidak bekerja tidak mempunyai pendapatan. Semakin tinggi angka pengangguran
terbuka maka semakin besar potensi kerawanan sosial yang ditimbulkannya
contohnya kriminalitas. Sebaliknya semakin rendah angka pengangguran terbuka
maka semakin stabil kondisi sosial dalam masyarakat. Sangatlah tepat jika
pemerintah seringkali menjadikan indikator ini sebagai tolok ukur keberhasilan
pembangunan.
b.
Pengangguran
Tersembunyi
Pengangguran Tersembunyi
adalah Pengangguran yang tercipta karena kelebihan tenaga kerja dalam suatu
bagian dalam perusahaan, akibatnya banyak tenaga kerja yang menganggur meskipun memiliki pekerjaan.
Contohnya Pelayan cafe yang lebih banyak dari yang diperlukan
c. Pengangguran Bermusim
Pengangguran Bermusim
adalah pengangguran yang terjadi karena adanya pengaruh dari musim terutama
pada sektor Pertanian dan Perikanan.
Contohnya:
-
Saat Musim Hujan
Penyadap karet dan Nelayan tidak dapat melakukan pekerjaan mereka
sehingga mereka terpaksa menganggur.
-
Saat Musim Kemarau para Pesawah tidak dapat mengerjakan
Tanahnya.
d. Pengangguran Setengah Menganggur
Pengangguran Setengah Mengaggur adalah Pengangguran
yang tercipta akibat jam kerja yang jauh lebih rendah dari jam kerja normal.
Contoh Seseorang yang bekerja Part time (
paruh waktu ). Setengah pengangguran dibagi menjadi dua kelompok :
·
Setengah
Penganggur Terpaksa, yaitu mereka yang bekerja dibawah jam kerja normal dan
masih mencari pekerjaan atau masih bersedia menerima pekerjaan lain.
·
Setengah
Penganggur Sukarela, yaitu mereka yang bekerja di bawah jam kerja normal tetapi
tidak mencari pekerjaan atau tidak bersedia menerima pekerjaan lain, misalnya
tenaga ahli yang gajinya sangat besar.
Proporsi
jumlah penduduk setengah pengangguran bermanfaat untuk dijadikan acuan
pemerintah dalam rangka meningkatkan tingkat utilisasi, kegunaan, dan
produktivitas pekerja.
Indikator
ini dapat dihitung dengan cara membandingkan antara jumlah penduduk yang
termasuk dalam angkatan kerja dan sedang bekerja tetapi dengan jam kerja di
bawah normal (kurang dari 35 jam per minggu) dengan jumlah penduduk yang
termasuk dalam angkatan kerja.
Tingkat Setengah Pengangguran
=
Jumlah pekerja
yang bekerja kurang dari jam kerja normal x 100
Jumlah angkatan kerja
Jumlah angkatan kerja
Misalkan,
berdasarkan data Sakernas 2007, persentase penduduk usia 15 tahun atau lebih
yang bekerja dengan jam kerja dibawah 35 jam seminggu berjumlah 25.240.550
orang sementara total angkatan kerja 2007 berjumlah 122.860.100 orang. Sehingga
tingkat setengah pengangguran pada tahun 2007 sebesar 20%.
Semakin
tinggi tingkat setengah pengangguran maka semakin rendah tingkat utilisasi
pekerja dan produktivitasnya. Akibatnya, pendapatan mereka pun rendah dan tidak
ada jaminan sosial atas mereka. Hal ini sering terjadi di sektor informal yang
rentan terhadap kelangsungan pekerja, pendapatan dan tidak tersedianya jaminan
sosial. Sehingga pemerintah perlu membuat kebijakan untuk meningkatkan
kemampuan bekerja mereka seperti penambahan balai latihan kerja.
Konsentrasi setengah pengangguran diduga banyak ditemukan disektor
pertanian dan perdagangan. Peta setengah pengangguran perlu dilengkapi dengan
distribusi menurut daerah dalam regional geografis dan dalam arti pedesaan
–perkotaan. Penanganan masalah setengah pengangguran regional sering
membutuhkan partisipasi aparat pemerintah daerah dengan gubernur sebagai penguasa
tunggal. Untuk itu, peta regional seperti ini sangat bermanfaat
2.2.
Masalah Inflasi / Kenaikan Harga
Inflasi adalah kenaikan harga – harga umum yang berlaku dalam
suatu perekonomian dari satu periode ke periode lainnya.
a. Inflasi
Tarikan Permintaan
Inflasi Tarikan Permintaan adalah kesempatan kerja yang tinggi,
menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan
pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi. Misalnya mengeluarkan barang dan
jasa.
Contohnya: suatu perusahaan menawarkan berbagai produk baru untuk
menambah minat masyarakat sehingga penawaran akan barang tersebut dapat
bertambah.
b. Inflasi Desakan Biaya
Inflasi Desakan Biaya adalah kenaikan harga barang produksi dari
suatu perusahaan dengan cara memberikan gaji dan upah yang tinggi kepada
Karyawannya karena adanya permintaan Perusahaan yang bertambah. Contohnya dalam
Suatu Perusahaan membutuhkan 20 (dua puluh)
Karyawan, untuk bekerja sesuai jam kerja yang ditetapkan, namun
berhubung karyawan yang Perusahaan peroleh hanya setengah dari 20 Karyawan dan
permintaan Perusahaan semakin meningkat
maka Perusahaan akan menaikan Gaji atau Upah yang lebih tinggi untuk Karyawan
yang mengerjakan permintaan Perusahaan yang meningkat itu.
c. Inflasi Diimpor
Inflasi Diimpor bersumber dari kenaikan harga-harga barang yang
diimpor. Inflasi ini akan wujud, apabila barang-barang impor yang mengalami
kenaikan harga mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan pengeluaran
perusahaan-perusahaan.
Misalnya “Minyak” yang berasal dari salah satu Negara terbesar
penghasil minyak yaitu Negara Arab Saudi, Negara Arab akan menaikan harga
minyak karena minyak peranannya sangat penting dalam proses produksi
barang-barang industri.
Inflasi Merayap adalah
proses kenaikan harga-harga yang tingkatnya tidak melebihi dua atau tiga persen
dalam setahun.
Contohnya, Negara Malaysia dan Singapura, Negara tersebut adalah Dua dari Negara-negara yang tingkat
inflasinya dapat digolongkan sebagai inflasi Merayap.
Hiperinflasi adalah
proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga
menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam masa yang singkat.
Contohnya, Negara Indonesia
Tahun
|
Tingkat Inflasi (%)
|
1965
|
500 %
|
1966
|
650 %
|
Ini berarti tingkat harga – harga naik 5 kali lipat pada tahun
1965 dan pada tahun 1966 harga-harga naik 6,5 kali lipat.
Hiperinflasi/Seringkali berlaku dalam perekonomian yang sedang
menghadapi perang atau kekacauan politik di dalam negeri. Dalam masa-masa
seperti ini pemerintah terpaksa menambah pengeluaran yang jauh melebihi dari
pajak yang dipungutnya. Contohnya meminjam dari Bank Sentral atau mewajibkan
Bank Sentral mencetak lebih banyak uang.
a. Efek Positif
-
Peredaran / perputaran barang lebih cepat
-
Produksi barang-barang
bertambah karena keuntungan pengusaha bertambah
-
Kesempatan kerja bertambah karena terjadi tambahan
investasi
-
Pendapatan nominal bertambah, tetapi riil berkurang
karena kenaikan pendapatan kecil.
b. Efek Negative / Efek Buruk
-
Inflasi akan menurunkan pendapatan riil
orang-orang yang berpendapatan
tetap.
Pada umumnya kenaikan upah tidaklah secepat kenaikan harga-harga.
Maka inflasi akan menurunkan upah riil individu-individu yang berpendapatan
tetap.
Inflasi akan mengurangi nilai kekayaan yang berbentuk uang.
Sebagian kekayaan masyarakat disimpan dalam bentuk uang. Simpanan di bank,
simpanan tunai, dan simpanan dalam institusi-institusi keuangan lain merupakan
simpanan keuangan. Nilai riilnya akan menurun apabila inflasi berlaku.
-
Memperburuk pembagian kekayaan.
Telah ditunjukkan bahwa penerima pendapatan tetap akan menghadapi
kemerosotan dalam nilai riil pendapatannya, dan pemilik kekayaan bersifat
keuangan mengalami penurunan dalam nilai riil kekayaannya. Akan tetapi pemilik
harta-harta tetap—tanah, bangunan dan rumah— dapat
mempertahankan atau menambah nilai riil kekayaannya. Juga sebagian penjual/ pedagang
dapat mempertahankan nilai riil pendapatannya. Dengan demikian inflasi
menyebabkan pembagian pendapatan di antara golongan berpendapatan tetap dengan
pemilik-pemilik harta tetap dan penjual/pedagang akan menjadi semakin tidak merata
2.3.Kebijakan
Pemerintah
-
Kebijakan segi permintaan :
Kebijakan fiskal adalah usaha Pemerintah untuk mempengaruhi
kegiatan ekonomi dengan membuat perubahan dalam bentuk pengeluarannya dalam
system pelajaran.
Kebijakan moneter adalah langkah Pemerintah yang dijalankan
melalui Bank Sentral untuk mengatahui kegiatan perekonomian dengan membuat
perubahan dalam penawaran uang dan suku bunga.
-
Kebijakan segi penawaran :
Kebijakan Segi Penawaran adalah Langkah Pemerintah yang berusaha
meningkatkan efisiensi kegiatan Perusahaan-perusahaan dan tenaga kerja sehingga
Produksi Nasional dapat ditingkatkan, Biaya Produksi dikurangkan dan teknologi
semakin berkembang.
Stagflasi adalah keadaan inflasi yang
sangat tinggi dan berkepanjangan, ditandai dengan macetnya kegiatan
perekonomian yang menyebabkan pengangguran.
1. a. Inflasi dan kebijakan fiskal
Menambah pajak dan mengurangi pengeluaran pemerintah
b. Inflasi dan kebijakan moneter
Mengurangi, menaikan suku bunga dan membatasi kredit.
c. Inflasi dan kebijakan segi penawaran
Melakukan langkah-langkah yang dapat mengurangi biaya produksi
dan menstabilkan harga seperti mengurangi pajak impor dan pajak atas bahan
mentah, melakukan penetapan harga, menggalakan pertambahan produksi dan
menggalakan perkembangan teknologi.
2.
a. Pengangguran dan Kebijakan fiskal
Mengurangi pajak dan
menambah pengeluaran pemerintah
b.
Pengangguran dan kebijakan moneter
menambah penawaran
uang, mengurangi atau menurunkan suku bunga dan menyediakan kredit khusus untuk
kegiatan tertentu.
c.
Pengangguran dan kebijakan segi penawaran
Mendorong lebih banyak infestasi, mengembangkan infrastrukstur,
meningkatkan efisiensi administrasi permintaan, member subsidi dan mengurangkan
pajak perusahaan dan individu.
3. Kebijakan
pemerintah dalam mengatasi kebijakan fiskal, moneter dan segi penawaran.
Dalam Kebijakan Fiskal akan dibuat Perubahan dalam pengeluaran
pemerintah atau pajak untuk mempengaruhi tingkat pengeluaran Agregat.
Dalam Kebijakan Moneter yang dilakukan adalah membuat perubahan
dalam penawaran uang atau Suku Bunga untuk mempengaruhi pengeluaran agregat.
Dalam Kebijakan Segi
Penawaran yang akan kita bahas Selanjutnya, Kebijakan Pemerintah dalam hal
tersebut adalah melakukan pengurangan pajak,
memberikan insentif fiskal, memberikan subsidi dan menyediakan
insfrastruktur yang baik untuk menaikan efisiensi kegiatan
Perusahaan-perusahaan.
4. Tujuan Kebijakan Pemerintah
a. Tujuan bersifat ekonomi
Tujuan bersifat ekonomi adalah tujuan yang didasarkan pada
pertimbangan-pertimbangan yang bersifat ekonomi
-
Dengan
menyediakan lowongan pekerjaan
Adalah usaha pemerintah untuk mengatasi pengangguran agar tidak
berlanjut terus menerus sehingga mengalami jangka panjang.
-
Meningkatkan
taraf kemakmuran masyarakat
Adalah kenaikan kesempatan kerja dan pengurangan pengangguran
yang berhubungan dengan pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat.
-
Memperbaiki
Pembagian Pendapatan
Pengangguran yang semakin tinggi menimbulkan efek yang buruk pada
kesamarataan pembagian pendapatan. Semakin besar pengangguran, semakin banyak
golongan tenaga kerja yang tidak mempunyai pendapatan. Pada kesempatan kerja
yang tinggi tuntutan kenaikan upah akan semakin mudah diperoleh. Dari
kecenderungan ini dapat disimpulkan bahwa usaha menaikan kesempatan kerja dapat
juga digunakan sebagai alat untuk memperbaiki pembagian pendapatan dalam
masyarakat.
b. Tujuan
Bersifat Sosial dan Politik
Tujuan Bersifat Sosial dan Politik adalah suatu kepentingan bersama, untuk semua
Masyarakat tanpa memandang status sosial Masyarakat, serta untuk kepentingan
Bangsa dan Negara.
-
Meningkatkan Kemakmuran Keluarga dan Kestabilan
Keluarga
Bila Anggota dalam suatu Rumah Tangga terlalu banyak dan tidak
mempunyai Pekerjaan, maka berbagai masalah akan timbul. Misalnya: Keluarga
tersebut kemampuannya terbatas untuk melakukan pembelanjaan dalam mencukupi
Kehidupan mereka sehari-hari. Maka hal tersebut akan mengurangi kemampuan
Keluarga untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. Akibatnya Keluarga tersebut akan mengalami perselisihan
dalam Berumah Tangga, sehingga secara otomatis pengangguran mengurangi taraf
Kemakmuran Keluarga.
-
Menghindari
Masalah Kejahatan
Pengangguran menyebabkan para pekerja kehilangan pendapatan. Akan
tetapi, ketiadaan pekerjaan tidak akan mengurangi kebutuhan untuk berbelanja.
Contohnya Sewa Rumah harus dibayar,
namun selain sewa Rumah. Keluarga juga perlu melakukan pengeluaran lain
untuk biaya Makanan, biaya Sekolah, dll. yang harus dibayar. Apabila tiada
tabungan dan sumber pendapatan lain, pengangguran menggalakan kegiatan
kejahatan. “ Inti’nya semakin tinggi pengangguran, maka semakin
tinggi tingkat kejahatan. Dengan demikian usaha mengatasi pengangguran
secara tak langsung menyebabkan pengurangan dalam kejahatan.
-
Mewujudkan
Kestabilan Politik
Pengangguran merupakan salah satu sumber dan penyebab dari
ketidak Stabilan Politik. Tanpa kestabilan politik tidak mungkin suatu NEGARA
dapat mencapai pertumbuhan yang cepat dan terus menerus. Hal tersebut menjadikan masyarakat seringkali
tidak merasa puas dengan pihak Pemerintah
yang tidak melakukan tindakan yang cukup untuk masyarakat. Misalnya
dalam perekonomian yang tingkat penganggurannya tinggi, masyarakat seringkali
melakukan Demonstrasi dan mengemukakan kritik kepada Pemimpin-peminpin
Pemerintah
BAB III
Pada bagian pembahasan ini,
penulis membahas mengenai permasalahan-permasalahan yang telah dirumuskan dalam
rumusan masalah. Masalah-masalah ini dibahas dan disesuaikan dengan teori-teori
yang sesuai dengan permasalahan.
1. Jenis-Jenis Inflasi
a. Berdasarkan
Tingkat Keparahan
1. Inflasi
ringan (creeping inflation)
Besarnya inflasi ini di bawah 10% dalam
setahun.
2. Inflasi
sedang
Besarnya inflasi antara 10% - 30% setahun.
3. Inflasi
berat
Besarnya inflasi antara 30% - 100%.
4. Hiperinflasi
Besarnya inflasi ini diatas 100% dalam
setahun.
b. Berdasarkan
Sumbernya
1. Importer
Inflation
Inflasi ini berasal atau
bersumber dari luar negeri, yang terjadi karena adanya kecenderungan kenaikan
barang-barang di luar negeri.
2. Domestic
Inflation
Inflasi ini berasal atau
bersumber dari dalam negeri sendiri, yang akan memengaruhi pertumbuhan
perekonomian dalam negeri. Domestic inflationterjadi akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak
uang baru dan gagalnya pasar yang
berakibat harga mengalami kenaikan.
c. Berdasarkan
Penyebabnya
1. Demand
Full Inflation
Adalah inflasi yang timbul
karena adanya kenaikan yang sangat tinggi terhadap permintaan barang dan jasa.
2. Cost
Push Inflation
Adalah inflasi yang terjadi
karena adanya kenaikan biaya produksi barang-barang dan jasa-jasa, bukan karena
adanya ketidak seimbangan antara permintaan dan penawaran.
Selain demand full inflation
dan cost push inflation, ada beberapa jenis inflasi jika dilihat dari faktor
penyebabnya, yaitu:
1. Inflasi Tarikan Permintaan
Inflasi tarikan permintaan
terjadi sebagai akibat dari adanya kenaikan permintaan agregat (AD) yang
terlalu besar atau pesat dibandingkan dengan penawaran atau produksi agregat.
2. Inflasi Dorongan Biaya
2. Inflasi Dorongan Biaya
Inflasi dorongan biaya terjadi
sebagai akibat adanya kenaikan biaya produksi yang pesat dibandingkan dengan
produktivitas dan efisiensi proses produksi dari suatu perusahaan.
3. Inflasi Struktural
3. Inflasi Struktural
Inflasi struktural terjadi
akibat dari berbagai kendala atau kekakuan struktural yang menyebabkan
penawaran menjadi tidak responsif terhadap permintaan yang meningkat.
2. Penyebab
Terjadinya Inflasi
Inflasi terjadi apabila tingkat
harga dan biaya umum naik; harga bahan pokok, harga bahan bakar, tingkat upah,
harga tanah, sewa barang-barang modal juga naik. Selain itu, inflasi juga
diakibatkan oleh:
a. Pengeluaran
pemerintah lebih banyak dari permintaan,
b. Adanya
tuntutan upah yang tinggi,
c. Adanya
lonjakan permintaan barang-barang dan jasa-jasa,
d. Adanya
kenaikan dalam biaya produksi.
Inflasi
dapat disebabkan oleh dua hal, yaitu tarikan permintaan (kelebihan
likuiditas/uang/alat tukar) dan yang kedua adalah desakan (tekanan)
produksi dan distribusi (kurangnya produksi (product or service) juga termasuk
kurangnya distribusi. Untuk sebab pertama lebih dipengaruhi dari peran negara
dalam kebijakan moneter (Bank Sentral), sedangkan untuk sebab kedua lebih
dipengaruhi dari peran negara dalam kebijakan eksekutor yang dalam hal ini
dipegang oleh Pemerintah (Government) seperti kebijakan fiskal
(perpajakan/pungutan/insentif/disinsentif), kebijakan pembangunan infrastruktur danregulasi.
Inflasi
tarikan permintaan (demand
pull inflation) terjadi
akibat adanya permintaan total yang berlebihan dimana biasanya dipicu oleh
membanjirnya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan
memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat tukar atau
likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan
bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut.
Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor
produksi meningkat.
Jadi, inflasi ini terjadi karena suatu kenaikan dalam permintaan total sewaktu
perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment, dimanana biasanya lebih disebabkan oleh
rangsangan volume likuiditas dipasar yang berlebihan. Membanjirnya likuiditas
di pasar juga disebabkan oleh banyak faktor selain yang utama tentunya kemampuan
bank sentral dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga bank
sentral, sampai dengan aksi spekulasi yang terjadi di sektor industri keuangan.
Inflasi
desakan biaya (cost push inflation) terjadi akibat adanya kelangkaan
produksi dan juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, meskipun permintaan secara umum tidak ada perubahan
yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidak-lancaran aliran distribusi ini
atau berkurangnya produksi yang tersedia dari rata-rata permintaan normal dapat
memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan dan penawaran, atau juga karena terbentuknya
posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau
skala distribusi yang baru. Berkurangnya produksi sendiri bisa terjadi akibat
berbagai hal seperti adanya masalah teknis di sumber produksi, bencana alam,
cuaca, atau kelangkaan bahan baku untuk menghasilkan produksi, aksi spekulasi
(penimbunan), sehingga memicu kelangkaan produksi yang terkait tersebut di
pasaran. Begitu juga hal yang sama dapat terjadi pada distribusi, dimana dalam
hal ini faktor infrastruktur memainkan peranan yang sangat penting.
Jika dihubungkan dengan
kenaikan harga BBM, inflasi yang terjadi disebabkan oleh adanya tekanan dalam
proses produksi dan distribusi. Para produsen akan mengurangi jumlah barang
yang akan diproduksi atas pertimbangan biaya produksi yang melonjak. Kalaupun
proses produksi tetap lancar, proses distribusi lah yang akan menghambatnya.
Akibat dari kenaikan harga BBM biaya atau ongkos untuk mendistribusikan barang
hasil produksi akan mengalami kenaikan.
3. Dampak
Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM)
Dalam situasi ekonomi
masyarakat yang sulit, maka kenaikan BBM bisa kontraproduktif. Kenaikan harga
BBM akan menimbulkan kemarahan masal, sehingga ketidakstabilan dimasyarakat
akan meluas (Hamid, 2000:144). Sebagian masyarakat merasa tidak siap untuk
menerima kenaikan harga BBM. Kenaikan BBM ini merupakan tindakan pemerintah
yang beresiko tinggi.
Meskipun demikian, kenaikan
harga BBM juga dapat menimbulkan dampak yang positif.
a. Dampak
Positif
1) Munculnya bahan bakar dan kendaraan alternative
Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru. Yang sudah di kenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan Bakar Gas). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
Seiring dengan melonjaknya harga minyak dunia, muncul berbagai bahan bakar alternatif baru. Yang sudah di kenal oleh masyarakat luas adalah BBG (Bahan Bakar Gas). Harga juga lebih murah dibandingkan dengan harga BBM bersubsidi. Ada juga bahan bakar yang terbuat dari kelapa sawit. Tentunya bukan hal sulit untuk menciptakan bahan bakar alternatif mengingat Indonesia adalah Negara yang kaya akan Sumber Daya Alam. Selain itu, akan muncul juga berbagai kendaraan pengganti yang tidak menggunakan BBM, misalnya saja mobil listrik, mobil yang berbahan bakar gas, dan kendaraan lainnya.
2) Pembangunan
Nasional akan lebih pesat
Pembangunan nasional akan lebih
pesat karena dana APBN yang awalnya digunakan untuk memberikan
subsidi BBM, jika harga BBM naik, maka subsidi dicabut dan dialihkan untuk
digunakan dalam pembangunan di berbagai wilayah hingga ke seluruh daerah.
3) Hematnya
APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)
Jika harga BBM mengalami
kenaikan, maka jumlah subsidi yang dikeluarkan oleh pemerintah akan berkurang.
Sehingga Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dapat diminimalisasi.
4) Mengurangi
Pencemaran Udara
Jika harga BBM mengalami
kenaikan, masyarakat akan mengurangi pemakaian bahan bakar. Sehingga hasil
pembuangan dari bahan bakar tersebut dapat berkurang, dan akan berpengaruh pada
tingkat kebersihan udara.
b. Dampak
negatif
1) Harga
barang-barang dan jasa-jasa menjadi lebih mahal.
2) Apabila
harga BBM memang dinaikkan, maka akan berdampak bagi perekonomian khususnya
UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah)
3) Meningkatnya
biaya produksi yang diakibatkan oleh: misalnya harga bahan, beban transportasi
dll.
4) Kondisi
keuangan UMKM menjadi rapuh, maka rantai perekonomian akan terputus.
5) Terjadi
Peningkatan jumlah pengangguran.
Dengan meningkatnya biaya operasi
perusahaan, maka kemungkinan akan terjadi PHK.
6) Inflasi
Inflasi akan terjadi jika harga BBM menglami
kenaikan. Inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi suatu barang
atau jasa.
4. Dampak
Kenaikan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Terhadap Inflasi dan Perekonomian
Jika terjadi kenaikan harga
BBM, maka akan terjadi inflasi. Terjadinya inflasi ini tidak dapat dihindari
karena bahan bakar, dalam hal ini premium, merupakan kebutuhan vital bagi
masyarakat, dan merupakan jenis barang komplementer. Meskipun ada berbagai cara
untuk mengganti penggunaan BBM, tapi BBM tidak dapat dipisahkan dari kehidupan
masyarakat sehari-hari.
Inflasi akan terjadi karena apabila
subsidi BBM dicabut, harga BBM akan naik. Masyarakat mengurangi pembelian BBM.
Uang tidak tersalurkan ke pemerintah tapi tetap banyak beredar di masyarakat.
Jika harga BBM naik, harga barang dan jasa akan mengalami kenaikan pula.
Terutama dalam biaya produksi. Inflasi yang terjadi dalam kasus ini adalah “Cost
Push Inflation”. Karena
inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan dalam biaya produksi. Ini jika
inflasi dilihat berdasarkan penyebabnya. Sementara jika dilihat berdasarkan
sumbernya, yang akan terjadi adalah “Domestic Inflation”, sehingga akan
berpengaruh terhadap perekonomian dalam negeri.
Kenaikan harga BBM akan membawa
pengaruh terhadap kehidupan iklim berinvestasi. Biasanya kenaikan BBM akan
mengakibatkan naiknya biaya produksi, naiknya biaya distribusi dan menaikan
juga inflasi. Harga barang-barang menjadi lebih mahal, daya beli merosot,
kerena penghasilan masyarakat yang tetap. Ujungnya perekonomian akan
stagnan dan tingkat kesejahteraan terganggu.
Di sisi lain, kredit macet
semakin kembali meningkat, yang paling parah adalah semakin sempitnya lapangan
kerja karena dunia usaha menyesuaikan produksinya sesuai dengan kenaikan harga
serta penurunan permintaan barang.
Hal-hal di atas terjadi jika
harga BBM dinaikkan, Bagaimana jika tidak? Subsidi pemerintah terhadap BBM akan
semakin meningkat juga. Meskipun negara kita merupakan penghasil minyak, dalam
kenyataannya untuk memproduksi BBM kita masih membutuhkan impor bahan baku
minyak juga.
Dengan tidak adanya kenaikan
BBM, subsidi yang harus disediakan pemerintah juga semakin besar. Untuk
menutupi sumber subsidi, salah satunya adalah kenaikan pendapatan ekspor.
Karena kenaikan harga minyak dunia juga mendorong naiknya harga ekspor
komoditas tertentu. Seperti kelapa sawit, karena minyak sawit mentah (CPO)
merupakan subsidi minyak bumi. Income dari naiknya harga CPO tidak akan
sebanding dengan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk subsidi minyak.
5. Dampak
Inflasi Terhadap Perekonomian Nasional
Kenaikan harga BBM berdampak
pada meningkatnya inflasi. Dampak dari terjadinya inflasi terhadap perekonomian
nasional adalah sebagai berikut:
1. Inflasi
akan mengakibatkan perubahan output dan kesempatan kerja di masyarakat,
2. Inflasi
dapat mengakibatkan ketidak merataan pendapatan dalam masyarakat,
3. Inflasi
dapat menyebabkan penurunan efisiensi ekonomi.
Inflasi
memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau tidaknya inflasi.
Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti
dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional
dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi.
Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak
terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian
dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja,
menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena
harga meningkat dengan cepat. Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai
negeri atau karyawan swasta
serta kaumburuh juga
akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi
semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
Sementara dampak inflasi bagi
masyarakat, ada yang merasa dirugikan dan ada juga yang diuntungkan. Golongan
masyarakat yang dirugikan adalah golongan masyarakat yang berpenghasilan tetap,
masyarakat yang menyimpan hartanya dalam bentuk uang, dan para kreditur.
Sementara golongan masyarakat yang diuntungkan adalah kaum spekulan, para
pedagang dan industriawan, dan para debitur.
Inflasi dapat dikatakan sebagai
salah satu indikator untuk melihat stabilitas ekonomi suatu wilayah negara atau
daerah. Yang mana tingkat inflasi menunjukkan perkembangan harga barang dan
jasa secara umum yang dihitung dari indeks harga konsumen (IHK). Dengan
demikian angka inflasi sangat mempengaruhi daya beli masyarakat yang
berpenghasilan tetap, dan disisi lain juga mempengaruhi besarnya produksi dari
suatu barang dan jasa.
6. Upaya
Pemerintah dalam Mengatasi Inflasi
Beberapa kebijakan yang dapat
diambil pemerintah untuk mengatasi terjadinya inflasi adalah sebagai berikut:
a. Kebijakan
Moneter
1. Politik
Diskonto
Untuk mengatasi terjadinya
inflasi, maka bank sentral harus mengurangi jumlah uang yang beredar dengan
cara bank sentral akan menaikan tingkat suku bunga pinjaman kepada bank umum.
Kebijakan ini juga disebut denganRediscount Policy atau
kebijakan suku bunga.
2. Politik
Pasar Terbuka (Open Market Policy)
Dalam politik pasar terbuka,
bank sentral akan menjual (jika terjadi inflasi) atau membeli (jika terjadi
deflasi) surat-surat berharga kepada masyarakat, sehingga ada arus uang yang
masuk dari masyarakat ke bank sentral.
3. Menaikan
Cash Ratio (Persediaan Kas)
Cash Ratio merupakan
perbandingan antara kekayaan suatu bank dengan kewajiban yang harus dibayarkan.
Untuk mengatasi inflasi, bank sentral akan menaikan cadangan kas bank-bank umum
sehingga jumlah uang yang bisa diedarkan oleh bank umum kepada masyarakat akan
berkurang.
4. Kebijakan
Kredit Selektif (Selective Credit Control)
Untuk mengatasi inflasi atau
mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat, maka diambil kebijakan
memperketat kredit atau pinjaman bagi masyarakat.
5. Margin
Requirements
Kebijakan ini digunakan untuk
membatasi penggunaan untuk tujuan-tujuan pembelian surat berharga.
b. Kebijakan
Fiskal
Dalam kebijakan fiskal, untuk
mengatasi inflasi pemerintah harus mengatur penerimaan dan pengeluaran yang
dilakukan pemerintah. Dalam hal penerimaan, pemerintah bisa menaikan tarif
pajak, sehingga jumlah penerimaan pemerintah meningkat. Kebijakan
yang kedua adalah Expenditure
Reducing, yakni mengurangi pengeluaran yang konsumtif, sehingga akan
mempengaruhi terhadap permintaan (Demand Full Inflation).
BAB IV
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya, penulis dapat mengemukakan
simpulan dari masalah yang dibahas. Inflasi merupakan melemahnya atau
menurunnya nilai mata uang karena banyaknya jumlah uang yang beredar
dimasyarakat, atau suatau keadaan dimana terjadinya kenaikan harga-harga secara
umum dan terjadi secara terus-menerus (continue).
Naiknya harga bahan bakar minyak (BBM) akan berdampak bagi
masyarakat. Baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak yang
signifikan akan terjadi pada tingkat inflasi dan pada kondisi perekonomian
nasional. Dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi adalah akan terjadi
kenaikan pada tingkat persentase inflasi. Jumlah uang yang beredar di
masyarakat akan bertambah, dan akan berdampak pula pada harga berbagai jenis
barang dan jasa. Kondisi perekonomian akan mengalami goncangan, ketidakstabilan
akan terjadi. Iklim investasi akan menurun, sehingga berpengaruh pada jumlah
pendapatan dan pengeluaran pemerintah. Kebijakan pemerintah untuk mengatasi
inflasi adalah dengan kebijakan moneter. Seluruh instrumen kebijakan moneter
efektif dalam mengurangi dan mengatasi inflasi.
Sesuai dengan kesimpulan diatas, penulis merumuskan saran sebagai
berikut.
1. Pemerintah hendaknya memilih waktu yang tepat untuk mengeluarkan
kebijakan menaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
2. Jika inflasi terjadi akibat dampak dari kebijakan pemerintah,
diperlukan suatu langkah yang tepat dalam mengatasi inflasi yang terjadi
Departemen Pendidikan Nasional. (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.
Hamid, Edi Suandi. (2000). Perekonomian
Indonesia: Masalah dan Kebijakan
Kontemporer. Jogjakarta: UII Press.
Jaka, Nur dkk. (2007). Intisari
Ekonomi untuk SMA. Bandung: CV Pustaka
Mandiri.
Mankiw, N. Gregory. (2006). Makroekonomi
Edisi-6. Jakarta: Erlangga.
Rosyidi, Suherman. (2009). Pengantar
Teori Ekonomi: Pendekatan Kepada Teori
Ekonomi Mikro dan Makro. Jakarta: Rajawali Pers.
Samuelson, Paul A. dan William D. Nordhaus. (1986). Ekonomi Edisi Ke-12.
Jakarta: Erlangga.
Wahyuningsih, Endang. (2012). Dampak
Kenaikan Harga Minyak Terhadap
Kondisi Ekonomi Indonesia.
[Online]. Tersedia:http://www.wealthindonesia.com/wealth-growth-and-accumulation/dampak-kenaikan-harga-minyak-terhadap-kondisi-ekonomi-indo.html. diakses tanggal 21 April 2015 pukul 19.15 WIB



No comments